Rasa yang Perkasa

Title : RASA YANG PERKASA

Series : –

Acrylic On Canvas, 156 x 183 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Sebelum masuk ke dalam pembahasan karya, izinkan saya sedikit bercerita tentang kisah di balik lahirnya karya Rasa yang Perkasa ini.

Suatu pagi di bulan Oktober; Ketika saya bangun tidur, saya tergerak untuk mengerjakan karya ini dengan media kanvas yang cukup besar –lebih dari 180 x 150 cm. Kanvas berukuran lebih tinggi dari tubuh saya ini saya pesan untuk seseorang yang beberapa waktu lalu sempat memberi harapan namun ternyata palsu.

Saya ikhlas dan sudah lega sekarang. Mengikhlaskan sesuatu memang berat dan butuh waktu. Meskipun sulit, tapi itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.

Saya mengizinkan diri saya sendiri untuk berdamai dengan perasaan kesal dan kecewa yang sempat mendera. Saya ikhlas, dan semua perasaan-perasaan itu saya tuangkan ke karya besar ini. Melukis sebagai media ekspresi dan pembersihan diri, itu yang saya kerjakan pada karya-karya saya.

Rasa yang Perkasa menceritakan tentang seekor gajah yang bersembunyi di balik sesuatu, dapat saya ibaratkan bahwa Gajah ini juga sedang terperangkap dalam gunung es yang membeku sehingga ia tidak dapat bergerak kemanapun.

Gajah adalah hewan perkasa yang sangat perasa. Banyak kita dengar filosofi tentang Gajah, seperti di lagu Tulus yang berjudul Gajah.

Gajah adalah hewan yg suka menyendiri, tapi di sisi lain mereka mudah stres ketika sendirian. Hal inilah yang kemudian membuat saya melihat cerminan dari diri saya. Saya melihat diri saya juga memiliki kesamaan dengan hal itu; saya tidak betah berada di dalam keramaian, tapi jika sendirian dalam waktu lama dapat membuat saya kalut dan stres.

Saya merasa kesendirian ini menjadi kian kuat. Hingga saat ini, saya tidak lagi sibuk mencari orang untuk menemani, tapi saya sibuk menyiapkan diri sendiri untuk menerima kehadiran orang lain untuk waktu yg lama. Saya merasa bahwa suatu hal yang mudah bagi saya untuk diterima dan bergaul dengan orang lain, tapi sangat sulit bagi saya untuk menerima kehadiran orang lain lebih jauh.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started