Asmaraloka – EUNOIA

Title : ASMARALOKA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 25 x 40 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Asmaraloka lahir sebagai media untuk menuangkan kisah manis tentang cinta. Nama Asmaraloka saya ambil dari bahasa serapan di bahasa Indonesia yang memiliki arti dunia (alam) cinta kasih.

Dalam proses kreatifnya, saya baru saja menyadari bahwa dengan berada di sebuah temapat yang penuh cinta, saya akan merasa sangat bersemangat dan penuh dengan pikiran-pikiran baik.

Pagi hari, ketika saya terbangun dan melihat manager saya telah tiba di ruang kerja, saya sempat berkata kepadanya bahwa rasanya sungguh menenangkan untuk terbangun dari tidur dan merasa cukup atas segala hal. Sungguh tidak ada perasaan yang lebih baik selain merasa damai dan merasa cukup.

Saya sadar, bahwa tempat yang penuh cinta kasih adalah tempat dimana saya bisa bersama dengan orang-orang terkasih, sempat kudengar para penyair menyebut tempat itu sebagai rumah.

Sebuah ruang aman untuk menjadi dirimu sendiri, mengasihi orang-orang yang berada dalam rumah kecil bahagia itu dan kemanapun saya pergi,; Asmaraloka adalah tempat untuk kembali pulang.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Patala – EUNOIA

Title : PATALA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 20 x 20 cm (3 pcs)

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Patala adalah salah satu karya saya dalam seri EUNOIA. Nama Patala saya ambil dari bahasa India yang berarti Bumi dan karya ini memang saya tujukan untuk memperingati Hari Bumi.

Di samping itu, dalam proses kreatif pembuatan karya ini, lirik lagu dari Sisir Tanah yang berjudul Bebal terngiang-ngiang di kepala saya. Kemudian saya coba tuangkan kegelisahan saya kepada kanvas; bahwa kita manusia telah menyakiti ibu bumi, setiap saat.

Jika bumi adalah ibu.
Kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

Bebal – Sisir tanah

Kita tidak memiliki hak untuk menyakiti dan merusak bumi, sebab bumi telah menyediakan segala hal yang kita butuhkan. Di atas bumi kita hidup, makan dan minum, kita menjadi ada dan kelak pun menyatu dengan bumi saat kita tiada. Oleh sebab itulah, Patala ini hadir sebagai pengingat diri untuk terus merawat bumi dan tumbuh bersama dengan sebaik mungkin.

Ada, tak ada manusia mestinya

Pohon-pohon itu tetap tumbuh.


Ada, tak ada manusia mestinya

Terumbu karang itu tetap utuh.

bebal – sisir tanah

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Yama Jiwa – EUNOIA

Title : YAMA JIWA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 80 x 80 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Yama Jiwa hadir dan lahir sebagai tubuh dari seri EUNOIA. Judul Yama Jiwa saya ambil dari bahasa sansekerta yang secara etimologis berarti pengendalian seluruh tubuh.

Secara filosofis, Yama jiwa menceritakan bahwa dengan pengendalian tubuh dan jiwa yang baik; maka pikiran-pikiran baik akan terus berdatangan. Sebab bagi saya menjaga kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.

Saya pernah merasa jauh, sepi dan terpuruk, dan perasaan-perasaan seperti itulah yang menjadi racun bagi jiwa dan tubuh. Saya hanya beruntung karena tidak terpuruk terlalu lama dan terlalu dalam, tidak terbuai oleh rasa sakit yang kerap kali membuat kita lupa bahwa ada suatu hal yang bernama bahagia.

Tentu kita tidak bisa mengukur kebahagiaan seseorang, pun juga rasa sakit dan kesedihan masing-masing dari kita. Oleh sebab itu saya selalu menghargai setiap rasa bahagia bagi orang-orang di sekitar saya meskipun itu terlihat kecil atau remeh bagi orang lain, pun saya selalu mencoba untuk menghargai semua kesedihan dan rasa sakit orang-orang di sekitar saya tanpa memandangnya dengan sebelah mata.

Setiap rasa yang kita rasakan tetaplah valid meski tidak semua orang akan mengerti akan hal itu. Hargai kehadiran dari perasaan diri dan lepaskan jika memang sudah siap.

Seperti kesedihan; seseorang pernah berkata bahwa kita dapat bersedih sepuasnya, namun juga seperlunya. Hadirkan titik batas agar tak terlarut terlalu dalam.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Aptana dan Aptanta – EUNOIA

Title : APTANA & APTANTA

Series : EUNOIA

30 x 40 cm ( 2 pcs), Acrylic On Canvas

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Aptana dan Aptanta merupakan karya kelima dalam seri EUNOIA. Keduanya hadir untuk saling melengkapi satu sama lain karena sejatinya mereka tidak terpisahkan.

Aptana dan Aptanta diambil dari bahasa Sansekerta. Aptana berarti memiliki kepandaian sedangkan Aptanta berarti selalu dihormati.

Secara filosofis kedua karya ini memang saling melengkapi, tidak ada kepandaian atau ilmu baik yang tidak dihormati.

Sederhananya, ketika saya memiliki sebuah ilmu dan kepandaian, saya tidak akan segan untuk menggunakan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk kebaikan dan membaginya kepada siapapun yang ingin belajar. Karena ilmu pengetahuan bagi saya sangat bernilai dan akan bermanfaat jika digunakan dengan baik.

Japa – EUNOIA

Title : JAPA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 30 x 30 cm (3 pcs)

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Japa merupakan karya keempat pada seri EUNOIA. Nama Japa sendiri diambill dari bahasa Jawa yang berarti Doa untuk menyembuhkan atau mengobati. Secara filosofis, Japa berarti doa-doa maupun mantra-mantra untuk meminta kebaikan.

Saya sadar bahwa pikiran-pikiran baik tidak akan datang tanpa bantuan dari do’a-do’a yang baik pula.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Winaya – EUNOIA

Title : WINAYA

Series : EUNOIA

Acrylic on Canvas, 60 x 40 cm (2 pcs)

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Winaya adalah karya ketiga saya pada seri EUNOIA. Nama Winaya saya ambil dari bahasa Yunani yang berarti disiplin. Masih dengan tema yang sama, yaitu pikiran-pikiran yang baik; Winaya hadir untuk melengkapi seri Eunoia ini.

Winaya hadir dan lahir sebagai pagar kuat yang akan menjaga kebun pikiran baik di dalam kepala. Sebab bagi saya, pikiran-pikiran baik tidak dapat terjaga jika kita tidak disiplin dengan segala apa yang kita kerjakan.

Fokus dan disiplin dengan pekerjaan, ibadah, atau bahkan dengan hal-hal sederhana seperti bersyukur dan merasa cukup setiap hari, bagi saya akan menjaga hal baik terus berdatangan.

Percayalah bahwa dengan menjaga fokus pada apa yang kita kerjakan akan memagari isi kepala dari pikiran buruk.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Arunika – EUNOIA

Title : ARUNIKA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 100 x 80 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Arunika adalah karya kedua dalam seri EUNOIA. Masih dalam tema yang sama, yaitu pemikiran-pemikiran yang baik. Arunika hadir untuk melengkapi keindahan seri Eunoia.

Arunika berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti pemandangan saat matahari terbit. Arunika juga hadir membersamai spiritual awakening saya beberapa waktu yang lalu.

Beberapa orang berkata bahwa langit akan terlihat paling indah ketika matahari mulai turun dan bersiap untuk ditelan malam. Tapi, saya sadar ada yang juga sama indahnya dengan warna senja, yaitu Arunika; cahaya matahari pagi setelah terbit.

Berkas warna oranye dan kekuningan dapat saya temui selepas mendirikan sholat subuh. Bias warnanya mengetuk pintu kamar dan masuk melalui sela-sela jendela ruang kerja saya. Sebuah momen yang mendamaikan hati bagi saya. Tidak kah Arunika sama indahnya seperti senja?

Bagi saya, Arunika layaknya doa baik untuk mengawali hari; yang semoga akan mendatangkan hal-hal baik pula hingga penghujung hari.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Meraki – EUNOIA

Title : MERAKI

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 80 x 50 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Meraki adalah karya pembuka saya pada seri EUNOIA. Seri ini hadir pada bulan Agustus 2021 lalu. Sebelum membahas lebih dalam mengenai Meraki, izinkan saya bercerita sedikit tentang judul seri saya kali ini, EUNOIA.

Eunoia berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti pemikiran yang indah atau pemikiran yang baik. Saya sadar bahwa sumber dari hal-hal baik yang akan datang adalah pemikiran baik yang ada di dalam kepala kita.

Pemikiran-pemikiran baik yang tumbuh dan mengakar pada kepala akan mendatangkan hal-hal baik secara beriringan. Sebab itulah, melalui seri Eunoia ini saya ingin membawa hal-hal baik yang dapat saya tanamkan pada diri untuk mendatangkan hal baik lainnya dalam kehidupan.

Selain Eunoia, Meraki juga saya ambil dari bahasa Yunani. Secara etimologis Meraki memiliki arti melakukan sesuatu dengan cinta, kreativitas, dan sepenuh jiwa. Secara filosofis, saya ingin menyampaikan bahwa dengan melakukan segala sesuatu dengan cinta dan sepenuh jiwa akan memberikan hasil yang baik.

Saya tidak bilang akan menghasilkan hasil yang bagus dan luar biasa, sebab saya sadar bahwa bagus atau tidaknya sesuatu terlalu hitam dan putih. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sesuatu yang pantas. Dengan merasa pantas dan cukup, hal itu dapat membawa perasaan hangat dan damai dalam diri.

Cukup percaya bahwa segala hal yang kita lakukan, meski tidak menghasilkan sesuatu seperti yang kita inginkan, tetap akan memberikan kita sesuatu yang pantas dan akan mendatangkan hal baik di kemudian hari.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Dunia yang Kita Pilih Sendiri

Title : DUNIA YANG KITA PILIH SENDIRI

Series : Unseries

Acrylic On Canvas, 100 x 100 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Dunia yang Kita Pilih Sendiri menceritakan tentang dua sudut pandang terhadap kehidupan. Berbicara tentang kehidupan, tentunya bagi saya hal ini tidak lepas dari bagaimana kita menjalaninya.

Orang bisa saja sibuk mengejar kesuksesan dalam hidup dan melupakan hal-hal mendasar seperti kebahagian diri. Kita lupa; sering kali lupa pada esensi kebahagiaan dalam kehidupan. Bukankah merasa cukup atas hidup juga membuat hati hangat dan bahagia?

Beberapa waktu yang lalu, saya masih mengira bahwa hari-hari buruk yang datang adalah kesialan di dalam hidup. HIngga pada akhirnya saya sampai pada sebuah momen, bahwa diri ini akan terus tumbuh bahkan pada hari-hari buruk sekalipun.

Jika hari-hari buruk datang, kita bisa apa selain menjalaninya dan tak mengutukinya agar tak menjadi lebih menyakitkan?

Kita dapat memilih untuk melihat kehidupan sebagai sesuatu yang penuh perjuangan atau justru hal yang sia-sia belaka. Pilihan ada di tangan kita, sebab itulah saya memilih untuk melihat kehidupan sebagai perjalanan yang baik, sehingga saya akan terus tumbuh dan mengakar kuat pada perjuangan hidup.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Biarlah Cinta Itu Tumbuh dan Lestari

Title : BIARLAH CINTA ITU TUMBUH DAN LESTARI

Series : Unseries

Acrylic On Canvas, 80 x 80 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, September 2021

Biarlah Cinta itu Tumbuh dan Lestari menceritakan tentang sifat mendasar dari cinta. Bahwa cinta adalah segala apa yang telah kita berikan dan tidak dapat kita ambil kembali; seperti waktu, dedikasi dan integritas. Tapi banyak orang melupakan hal ini.

Sangat lucu jika mengingat bahwa terkadang kita terlalu sibuk dan terlalu fokus menolak cinta, kita terlalu sibuk memperbesar perang, terlalu sibuk mengembangkan teknologi untuk saling bunuh dan memperbanyak musuh, sedang kita lupa bahwa alat terkuat adalah senyum dan kata-kata maaf. Bahwa alat terkuat adalah cinta kasih kepada sesama dan kepada alam.

Cinta yang ingin saya ceritakan dalam karya ini bersifat universal. Baik itu cinta kepada diri sendiri, kepada pasangan, keluarga, atau kepada alam dan Gusti Sang Maha Pencipta segalanya.

Jika diibaratkan menanam pohon, kamu dapat menanam dan merawat pohonmu sendiri, berdua, atau bersama dengan banyak orang yang kamu kasihi. Ketika pada akhirnya pohon itu tumbuh dan menjadi rindang, kamu bisa berteduh di bawahnya; dapat kamu persilakan pula orang lain untuk datang dan ikut berteduh di bawahnya.

Kamu tentu harus menjaga pohonmu ketika sudah rindang, sebab akan ada orang-orang yang berusaha untuk menebangnya. Terkadang jika sudah cinta, kita akan memberikan seluruh rasa percaya kita. Tapi di sinilah setidaknya diperlukan upaya kuat untuk menjaga pohon yang telah kita rawat sebagai bentuk dari Self Love.

Sekali lagi; Jika cinta datang, maka biarlah cinta itu tumbuh dan lestari.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Design a site like this with WordPress.com
Get started