SINK OR SWIM?

Title : SINK OR SWIM?

Series : HARMONY IN CHAOS

Acrylic On Canvas, 70 x 70 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Sink or Swim adalah sebuah karya yang saya buat pada bulan Oktober 2021 lalu. Karya ini menceritakan tentang pilihan yang kita pilih dalam hidup, tentang jalan mana yang akan kita pilih; tenggelam atau terus berenang dan memperjuangkan kehidupan itu sendiri.

Karya ini memiliki jiwa yang sama dengan karya saya yang berjudul Dunia yang Kita Pilih Sendiri. Sebab kehidupan adalah perjalanan masing-masing individu dengan jalan yang kita tentukan sendiri.

Saya pernah tenggelam dalam kalut, pernah begitu tidak berdaya dan terbawa oleh arus begitu saja. Tapi saya tertolong dengan beberapa hal yang menyadarkan saya, bahwa saya harus terus berenang hingga ke tepian, menyelamatkan hidup saya sendiri.

Sebab jika saya tidak dapat menyelamatkan diri saya sendiri, maka saya tidak bisa menyelamatkan orang lain, sedang saya memiliki keluarga yang sangat saya cintai. Oleh sebab itulah saya memilih untuk berjuang, menghimpun seluruh daya dan tenaga yang saya punya untuk terus memperjuangkan hidup dan orang-orang yang saya kasihi.

Melalui Sink or Swim pula saya ingin menceritakan tentang proses saya dalam menguatkan diri ketika merasa lemah untuk menjadi kuat, untuk setidaknya mengambil langkah yang bijak dalam setiap keputusan.

Bagi saya, sejatinya hidup adalah perjalanan melawan arus, dan hanya sampah serta ikan mati saja yang akan hanyut bersama arus.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Lucid Dream

Title : LUCID DREAM

Series : Unseries

Acrylic On Canvas

100 x 100 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Lucid dream menceritakan tentang mimpi-mimpi yang pernah saya dapatkan. Banyak mimpi-mimpi liar dengan jalan cerita tak tertebak yang pernah hadir dan mampir.

Saya pernah bermimpi tentang puncak gunung es dan mendakinya, ada pula mimpi aneh lain yang rasanya memenuhi kepala saya ketika terbangun. Sesak.

Semua pengalaman itu saya coba rangkum melalui kanvas, lalu hadirlah karya Lucid Dream ini.

Sebelum karya ini lahir, saya juga pernah mencoba merangkum dan menumpahkan isi mimpi saya pada karya-karya yang lain. Seperti Panembahan dan Chandra.

Melalui melukis dengan media kanvas dan cat, saya akhirnya dapat mencapai titik kelegaan dalam diri. Sungguh melukis adalah media katarsis yang baik bagi saya.

Melukis sangat membantu saya menuangkan isi kepala dan isi hati yang tak pernah bisa saya ceritakan dan saya ungkapkan secara langsung kepada siapapun.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Ikrar

Title: Ikrar

Series: Unseries

Acrylic on Canvas, 80 x 60 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Ikrar lahir dan hadir sebagai pengingat saya tentang sebuah janji. Janji tersebut saya ucapkan kepada diri sendiri untuk mengurangi ketergantungan saya dengan alkohol.

Saya sadar bahwa beberapa waktu terakhir, saya sudah keterlaluan dengan diri sendiri. Sudah saatnya bagi saya untuk mengurangi alkohol demi kebaikan diri.

Saya lafalkan janji tersebut dengan membuat Ikrar dan menggantungnya di workshop pada tempat terbaik yang dapat saya lihat dan ingat.

Secara luas, saya ingin menceritakan bahwa janji yang telah terucap harus saya tepati. Hal ini adalah sebuah bentuk tanggung jawab saya terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu pula sebisa mungkin saya menepati janji yang pernah saya buat, sebab saya tak pernah bermain-main dengan tanggung jawab.

Saya percaya bahwa dengan menepati dan menjalani janji yang pernah saya buat akan mendatangkan hal-hal baik yang menghangatkan hati.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Seluruh Penjuru

Title: Seluruh Penjuru

Series: Unseries

Acrylic on Canvas, 100 x 90 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Seluruh Penjuru menceritakan tentang kekuatan do’a. Saya percaya bahwa do’a-do’a baik yang saya amini setiap hari dapat melesat sangat cepat dan bahkan jauh lebih cepat dari cahaya dan angin.

Saya percaya bahwa do’a ada dimana saja. Bahkan di tempat-tempat yang sering kita kira kumuh dan kotor. Do’a-do’a baik itu akan menuju ke mana saja, ke tempat terbaik untuknya; bisa sampai ke alamat yang dituju, atau juga berbalik dengan kecepatan yang sama ke sang pengirim do’a.

Jika hidup kita mendapatkan kebaikan dan kemudahan, percayalah bahwa itu adalah kekuatan do’a baik yang terkabulkan dari teman dan siapapun yang mengasihi kita.

Do’a itu saya lempar jauh ke seluruh penjuru dengan tulus. Tidak sempat saya campur aduk dengan apapun. Semuanya tertata begitu saja dan bercampur dengan sendirinya.

Lewat takdirnya; Saya percaya Gusti paham betul apa yang saya butuhkan. Cukup saya meminta intinya saja.

Tak Pernah Padam – LITANI

Title : TAK PERNAH PADAM

Series : LITANI

Acrylic On Canvas, 80 x 60 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, September 2021

Pada beberapa artikel sebelumnya, saya pernah menceritakan bahwa LITANI memiliki arti doa-doa baik yang diucapkan bersama-sama, karya Tak Pernah Padam ini merupakan salah satu dari beberapa karya saya yang termasuk dalam seri tersebut.

Tak Pernah Padam hadir dan lahir untuk mengingatkan saya kepada hal sederhana yang sering terlupa; semangat. Karya ini menceritakan tentang semangat-semangat baik; tentang apapun, dimanapun- tentang segala hal yang sering terlupa seperti semangat untuk tetap dan terus memperjuangkan hidup.

Saya sadar bahwa hari-hari yang berat dan tidak menyenangkan akan tetap datang. Pada malam-malam yang sepi dan kosong seperti itulah saya kerap kali lupa bagaimana cara untuk tetap waras dan memaknai hidup, sehingga karya ini hadir sebagai pengingat bahwa saya harus tetap hidup, memperjuangkannya dan terus berkarya.

Semoga semangat baik yang saya rapalkan dan menjadi jiwa dari do’a-do’a saya setiap hari tak akan pernah padam.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Nirbaya – NISKALA

Title : NIRBAYA

Series : NISKALA

Acrylic On Canvas, 80 x 60 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Nirbaya adalah karya pembuka dalam seri NISKALA. Seri ini saya buat pada akhir bulan agustus 2021. Terdapat 12 karya dalam seri ini dan hampir semua karya dalam seri NISKALA sudah berada di rumah kolektor dan terpasang di dinding-dinding terbaik mereka.

Sebelum masuk pada penjelasan karya, izinkan saya bercerita sedikit tentang seri NISKALA ini. Secara etimologis niskala bermakna tidak berwujud atau abstrak. Nama Niskala saya ambil dari bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa sansekerta.

Secara filosofis, seri NISKALA ini lahir sebagai tanda dan membersamai proses saya yang mulai bisa melihat inti dari banyak hal termasuk ketidakrupaan; inti atau esensi dari bentuk yang bahkan tidak berbentuk seperti keberanian, keteguhan, dan kekuatan doa.

Sebagai karya pembuka, saya ingin membuka seri ini dengan keberanian. Oleh sebab itulah karya ini Nirbaya hadir.

Nirbaya memiliki arti pemberani; tidak gentar, dan berani menghadapi bahaya. Nirbaya juga bercerita tentang harapan untuk diri saya sendiri agar tidak bodoh dan mau belajar. Karena hidup ini berat dan akan jauh lebih berat jika kita penakut dan bodoh.

Hidup memang terlalu singkat jika harus dilewati dengan penuh keragu-raguan. Sesekali kita memang harus seberani itu untuk tahu sampai mana kemampuan kita.

Rasa yang Perkasa

Title : RASA YANG PERKASA

Series : –

Acrylic On Canvas, 156 x 183 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Sebelum masuk ke dalam pembahasan karya, izinkan saya sedikit bercerita tentang kisah di balik lahirnya karya Rasa yang Perkasa ini.

Suatu pagi di bulan Oktober; Ketika saya bangun tidur, saya tergerak untuk mengerjakan karya ini dengan media kanvas yang cukup besar –lebih dari 180 x 150 cm. Kanvas berukuran lebih tinggi dari tubuh saya ini saya pesan untuk seseorang yang beberapa waktu lalu sempat memberi harapan namun ternyata palsu.

Saya ikhlas dan sudah lega sekarang. Mengikhlaskan sesuatu memang berat dan butuh waktu. Meskipun sulit, tapi itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.

Saya mengizinkan diri saya sendiri untuk berdamai dengan perasaan kesal dan kecewa yang sempat mendera. Saya ikhlas, dan semua perasaan-perasaan itu saya tuangkan ke karya besar ini. Melukis sebagai media ekspresi dan pembersihan diri, itu yang saya kerjakan pada karya-karya saya.

Rasa yang Perkasa menceritakan tentang seekor gajah yang bersembunyi di balik sesuatu, dapat saya ibaratkan bahwa Gajah ini juga sedang terperangkap dalam gunung es yang membeku sehingga ia tidak dapat bergerak kemanapun.

Gajah adalah hewan perkasa yang sangat perasa. Banyak kita dengar filosofi tentang Gajah, seperti di lagu Tulus yang berjudul Gajah.

Gajah adalah hewan yg suka menyendiri, tapi di sisi lain mereka mudah stres ketika sendirian. Hal inilah yang kemudian membuat saya melihat cerminan dari diri saya. Saya melihat diri saya juga memiliki kesamaan dengan hal itu; saya tidak betah berada di dalam keramaian, tapi jika sendirian dalam waktu lama dapat membuat saya kalut dan stres.

Saya merasa kesendirian ini menjadi kian kuat. Hingga saat ini, saya tidak lagi sibuk mencari orang untuk menemani, tapi saya sibuk menyiapkan diri sendiri untuk menerima kehadiran orang lain untuk waktu yg lama. Saya merasa bahwa suatu hal yang mudah bagi saya untuk diterima dan bergaul dengan orang lain, tapi sangat sulit bagi saya untuk menerima kehadiran orang lain lebih jauh.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Niscaya – EUNOIA

Title : NISCAYA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 90 x 90 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Secara etimologis, Niscaya berarti tentu atau pasti. Tapi, secara filosofis karya ini menceritakan tentang kepercayaan saya dengan jalan hidup yang telah saya pilih.

Bagi saya, seniman bukanlah sebuah jenjang karir, melainkan pilihan hidup. Sebab tak ada ilmu untuk menjadi seorang seniman. Ilmu dan pengetahuan untuk berkesenian memang ada, tapi tidak pernah ada ilmu pasti untuk menjadi seorang seniman.

Bagi saya, menjadi seniman adalah jalan yang saya pilih sendiri, yang kemudian saya percayai dan saya jalani dengan bersungguh-sungguh.

Niscaya merupakan salah satu dari beberapa karya saya yang menceritakan tentang bagaimana saya memantapkan diri pula dengan jalan yang saya pilih; Bagaimana untuk tetap terus konsisten, karena yang paling sulit dari jalan hidup yang saya jalani ini adalah tetap di sini, dan tetap konsisten untuk menghasilkan karya-karya yang bagus.

Jika hanya untuk menghasilkan sembarang karya, saya dapat membuat banyak sekali karya dalam waktu yang singkat. Tentunya karya tersebut akan terlihat kosong, hampa tanpa jiwa dan tanpa konsep yang matang sehingga tidak akan berkualitas. Karya-karya yang seperti itu tidak bagus dan bahkan saya sendiri akan bilang bahwa karya itu jelek. Sebab itulah, mengapa konsisten menghasilkan karya-karya yang bagus merupakan tantangan tersendiri bagi saya.

Maka melalui karya-karya inilah saya menguatkan diri untuk tetap berada pada jalan yang saya pilih, menghasilkan karya-karya bagus. Tentu konsep bagus yang saya maksud di sini adalah ‘bagus’ dalam artian saya dapat menikmati karya tersebut bagi diri saya sendiri, sebab saya tidak membuat karya untuk dibilang bagus oleh orang lain. Namun, saya tetap mempersilakan orang lain untuk menikmati karya-karya saya melalui perspektif mereka.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu )

Naraya – EUNOIA

Title: Naraya

Series: EUNOIA

Acrylic on Canvas, 25 x 50 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Naraya saya ambil dari bahasa Sansekerta yaitu Narayana atau Narayan yang ditujukan untuk menyebut Wisnu, dan dalam banyak bahasa daerah kontemporer India umumnya digunakan untuk menyebut Tuhan atau Gusti.

Di balik pemilihan nama ini, Naraya hadir sebagai bentuk kekaguman saya terhadap seorang perempuan yang luar biasa kuat di mata saya. Ia menyebut dirinya sebagai Narayana, sebab tak ada hal yang lebih kuat dari dirinya, dan saya sebut pula Ia Naraya untuk memanggilnya.

Saya melihat Naraya layaknya seorang jagoan dalam cerita hidupnya sendiri, sebab itulah saya sadar bahwa masing-masing dari kita adalah jagoan dari cerita hidup masing-masing.

Tuhan telah sangat baik dan bijaksana menciptakan kita dengan sebaik-baiknya agar pantas untuk menjalankan peran kehidupan masing-masing. Maka, apapun pilihan hidupmu, terlepas dari apakah itu baik atau tidak; dunia tak pernah seluruhnya hitam dan putih.

Seorang teman pernah berkata bahwa kita tidak sedang tersesat di jalan yang rumit, kita hanya memilih jalan unik milik kita sendiri yang benar-benar kita jalani dengan sungguh-sungguh. Bagi saya, itulah esensi kehidupan; menikmati perjalanan hidup dengan jalan yang kita pilih sendiri-

Itulah kebenaran hakiki untukmu, untuk diri, dan untuk semua orang.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Bagya – EUNOIA

Title : BAGYA

Series : EUNOIA

Acrylic On Canvas, 90 x 60 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, August 2021

Nama Bagya saya ambil dari bahasa Jawa yang berarti Bahagia. Bagya hadir sebagai pengingat untuk merasa bahagia meski hari-hari baik tak sering datang berkunjung.

Bagya merupakan bagian yang termasuk ke dalam seri EUNOIA. Masih dalam tema yang sama, yaitu pikiran-pikiran yang baik; Saya sadar bahwa pikiran baik tak akan datang jika kita tak mengizinkan diri untuk merasa bahagia.

Beberapa orang yang saya kenal kerap menghindari rasa bahagia karena takut akan tertimpa kemalangan setelahnya. Tapi bagi saya, merasa bahagia adalah suatu hal yang indah.

Merasa bahagia berarti pula merasa cukup atas apa yang kita punya, atas apa permasalahan yang dengan kuat bisa kita lewati, atas segala hal sederhana yang mendatangkan perasaan senang.

Berbahagialah, sebab hidup terlalu singkat untuk bersedih.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Design a site like this with WordPress.com
Get started