KONTEMPLASI SURUP-SURUP

Title : KONTEMPLASI SURUP-SURUP

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 75 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

Matahari sudah tenggelam, begitu juga dengan sadarku. Ia pergi bersama dengan kewarasan dan rasa sesal. Menjelang malam, semuanya terlihat begitu putih, air mata diusap dengan kertas bekas surat cinta.

Minggu depan akan seperti apa? Seribu tahun lalu terlihat seperti apa? Apakah bintang benar-benar kecil dan indah? Dan semua pertanyaan liar silih berganti mengganggu.

Beruang tidak punya uang, tapi durian punya duri. Ikan paus kesepian tapi ia bingung akan gantung diri dimana untuk mengakhiri rasa sedihnya. Capung bukan helikopter karena dia tidak bising dan mendesing.

Bagaimana jika begini saja, kamu dan aku sama-sama begitu sampai semuanya seperti itu?

WEKAS

Title : WEKAS

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 75 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

Wekas memiliki arti pesan. Karya ini diambil dari bahasa Jawa.

Semua karya saya dalam seri PINDHO menggunakan bahasa jawa sebagai judul-judulnya. Hal ini berkaitan dengan saya yang merupakan seseorang berdarah Jawa.

Pesan atau nasihat adalah sesuatu yang harus kita amanahkan dan kita jaga. Sebab jika seseorang berpesan kepada kita, maka mereka telah memberikan kepercayaan mereka kepada kita.

WEKAS

Aku berdiri di tepi kepalaku sendiri, dekat dengan telinga sebelah kiri. Berteriak penuh pesan dengan sedikit amarah, tapi tidak sepenuhnya marah. Kadang juga teriakan itu berisi tawa yang lepas.

Mengingatkan diriku sendiri untuk tetap menjadi diriku meskipun dunia ini terkadang menyediakan banyak topeng-topeng. Ada yang terbuat dari emas, ada juga yang dari sampah. Ada yang membuat nyaman, ada juga yang merobek dan melukai muka.

Pesanku pada diriku sendiri adalah agar bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih baik. Baliho mungkin mulai menjamur di atas aspal yang berlubang, tapi langit tetaplah langit yang jika kau pandangi, tak habis ia ditelan ujung matamu.

Aku tau siapa aku, kalaupun suatu hari aku harus kehilangan diriku sendiri lagi, aku tau kemana harus mencarinya dengan tenang. Semoga bisa diingat seperti itu.

GEGAR

Title : GEGAR

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 70 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

Kumpulan kata-kata datang meski tak diundang, mereka berduyun-duyun menghampiri yang masih nyama dengan mata terpejam.

Tanpa ketukan ramah di depan pintu atau panggilan lirih, semuanya langsung menyeruak begitu saja seperti jutaan petir di atas samudera.

Kaget, tentu saja. Banyak yang terguncang. Begitupun aku yang mungkin sudah lebih dari porak-poranda kala itu. Tidak semua siap dengan segala sesuatu yang begitu cepat. Tapi mungkin itu juga salahku, harusnya aku lebih sigap, harusnya aku sudah bisa lebih antisipatif.

Lain kali, kalau mereka datang lagi, aku akan tetap di sini. Menanam kakiku di pasir. Tidak akan gentar, tidak pula gegar.

PALAGAN

Title : PALAGAN

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 100 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

Setelah apa-apa yang saya lalui, perlahan saya sadar bahwa yang hanya sekali itu bukanlah hidup, tetapi mati. Kita mati hanya sekali tapi bisa hidup berkali-kali dan selamanya.

Bukan hanya tentang tubuh yang masih bernafas atau tidak. Jauh dari itu, ada hidup serupa semangat yang tidak tampak namun pasti terasa yang harus terus dihidupkan.

Dunia adalah arena peperangan antara diri kita sendiri dengan diri kita sendiri, yang barang tentu harus kita menangkan. 

Beranilah! Karena orang berani bukanlah mereka yang berani mati, tapi mereka-mereka yang berani hidup!

credit: @kafeinmu

PITULUNGAN

Title : PITULUNGAN

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 70 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

Pitulungan saya ambil dari kata pitu dalam bahasa Jawa yang berarti tujuh, hal ini berkaitan dengan tujuh garis yang selalu saya buat dalam karya saya yang termasuk ke dalam seri PINDHO. Sedangkan pitulungan sendiri memiliki arti pertolongan.

Ada nilai-nilai dalam adat Jawa yang menjunjung tinggi saling tolong menolong dengan sesama. Sebab kita tak sekuat itu untuk berdiri sendiri.

PITULUNGAN 

Kita butuh, pasti butuh. Kenapa? Karena kita tidak sekuat itu.

Kalaupun kita kuat, pasti ada yang lebih kuat dari semua ini. Berjalanlah ke sana, ke arah entah apa namanya, biar pikiranmu terbuka. Biar kau sadar bahwa dunia itu tidak hanya tentangmu.

Kita meminta, pasti meminta. Kenapa? Karwna kita tidak punya segalanya.

Kalaupun kita punya banyak hal, pasti ada lebih banyak hal lagi yang kita tidak punya. Berlarilah ke sana, bersama angin dan lembaran buku-buku pembentuk sejarah. Biar kau sadar bahwa peradaban ini bukan hanya tentangmu.

Ada yang besar, ada yang jauh lebih besar. Ada yang hebat, ada yang jauh lebih hebat.

Dan kita semua tidak perlu seangkuh itu hingga merasa tidak perlu meminta pertolongan.

credit: @kafeinmu

NGURI URI JANJI

Title : NGURI-URI JANJI

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 90 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

NGURI-URI JANJI memiliki arti menghidupi janji. Sebab janji adalah suatu hal yang dapat kita percaya dan membuat hidup akan tetap hidup.

NGURI-URI JANJI

Ada hasrat hidup yang terpatri pada tiap-tiap janji. Dan sejatinya hasratlah yang membuat hidup menghimpun gerak dan pikir.

Janji itu baiknya kau jaga betul, kau tulis di buku lusuhmu, kau ucap di do’a malammu, dan kalau perlu, bisa kau abadikan di bawah kulitmu.

Janji itu perkara dirimu dan ekspektasi. Datang membawa harapan dan menumbuhkan keyakinan, janji adalah hutang yang harus dibayar tuntas. Hidup adalah janji, tetap hidup adalah janji yang berat, dan terus hidup adalah janji yang indah.

Pada malam-malam yang aku hafal betul akan seperti apa suara-suara anginnya ini, aku berjanji dan memegangnya dengan teguh. Aku akan mati sekali saja, dan hidup selama-lamanya dalam bentuk yang nirmala.

credit: @kafeinmu

NATAS NITIS NETES

Title : NATAS NITIS NETES

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

100 x 90 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, January 2022

Natas, Nitis, Netes memiliki arti Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan Kita Hidup, dan bersatu pada Tuhan kita kembali (From God we come, In God we life, and unite God we return). Kalimat ini merupakan salah satu falsafah jawa. Bukan tanpa makna falsafah jawa tersebut diciptakan oleh leluhur kita, jika kita merenunginya, ini adalah kunci untuk hidup bahagia.

Saya membuat sebuah puisi mengenai karya NATAS NITIS NETES ini yang sekiranya dapat teman-teman baca sembari menikmati karya NATAS NITIS NETES.

NATAS NITIS NETES

Datang dari tempat yang jauh, kita semua akan pergi ke tempat yang entah apa namanya. Di sini cuma sebentar. Menangis, berkeringat, tertawa, tumbuh, lalu layu.

Bukan tentang seberapa banyak, bukan juga tentang seberapa hebat. Hidup mungkin adalah arena tanding penuh penonton yang bersorak-sorai. Mungkin juga hanya ruang penitipan mimpi. 

Sampai berjumpa lagi di tempat dimana tidak ada lagi yang tersisa dari apa-apa yang biasanya kita sombongkan.

credit: @kafeinmu

RERESIK

Title : RERESIK

Series : PINDHO

Acrylic On Canvas

180 x 120 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, December 2021

Reresik adalah karya pembuka sekaligus karya utama saya dalam seri PINDHO. Dalam proses kreatif pembuatan karya ini, saya menggunakan sapu lidi sebagai kuas saya.

Reresik secara harfiah berasal dari kata “resik” yang berarti bersih, mendapat imbuhan “re” menjadi “reresik” yang berarti menjadi kata kerja membersihkan.

Tahun yang berat dan mungkin kotor. Sudah hampir berakhir dan berganti, sudah saatnya juga dibersihkan. Agar nanti saat yang baru tiba, semuanya sudah siap dan bersih. Menyelesaikan apa yang harus dituntaskan, menyudahi apa yang memang harus sudah.

Saya membuat sebuah puisi mengenai karya ini yang mungkin dapat teman-teman semua nikmati sambil melihat karya Reresik.

RERESIK

Kakiku kotor, tanganku kotor, begitu pula wajah dan hampir seluruh badanku. Beberapa waktu belakangan ini aku masih sering bergumul di tengah kubangan yang itu-itu saja. Lelah tentunya.

“Aku pengen mentas ben isoh pentas”, mungkin itu yang harusnya ku ucap tiap pagi dari dulu. 

Bangun pagi lalu mulai bersyukur atas hal-hal sekecil apapun yang memang sudah sepantasnya disyukuri. Alam adalah kitab yang seharusnya tidak berhenti kita pelajari dan petik ilmunya.

Aku menyapu badanku sendiri dengan sapu lidi meski perih, tapi setidaknya itu akan juga turut merusak banyak hal-hal buruk yang melekat sejak lama. Aku ingin dan akan bersih. Bersih dari hal-hal yang sudah sangat berhasil menyusahkan diriku sendiri.

credit: @kafeinmu

Hurricane in My Head

Title : HURRICANE IN MY HEAD

Series : HARMONY IN CHAOS

Acrylic On Canvas, 185 x 150 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, November 2021

Hurricane in My Head merupakan salah satu karya saya yang termasuk ke dalam seri HARMONY IN CHAOS. Karya ini berukuran cukup besar, yaitu 185 x 150 cm.

Saya senang dengan media kanvas yang besar. Bagi saya, ukuran kanvas yang besar adalah ukuran yang membahagiakan. Sebab, ibarat sebuah buku diary, maka semakin banyak area yang dapat saya tulis, semakin lega pula isi kepala dan hati saya.

Kanvas ibarat buku diary yang dahulu sering saya tulis ketika kecil. Rasa sakit yang tidak dapat saya jabarkan melalui tulisan maupun kata-kata, saya tuangkan ke atas kanvas besar ini. Sakit, sesak, kecewa, dan segala perasaan negatif lainnya tertuang dalam campuran warna dan tulisan yang pada karya ini.

Dalam proses pembuatannya, saya membuat typography atau tulisan pada karya ini. Tulisan-tulisan tersebut mengalir begitu saja ketika saya sedang melukis. Tapi seluruh tulisan yang telah tertuang pada karya ini tak ingin saya baca kembali. Bagi saya, perasaan pada tulisan itu sudah selesai.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Waktu Indonesia Bagian Overthinking

Title : WAKTU INDONESIA BAGIAN OVERTHINKING

Series : Unseries

Acrylic On Canvas, 60 x 40 cm

Miftah Rizaq

Yogyakarta, October 2021

Waktu Indonesia Bagian Overthinking adalah karya yang menceritakan tentang malam-malam yang sepi namun begitu sesak di dalam kepala, pikiran-pikiran buruk tentang kesalahan di masa lalu, atau kekhawatiran pada masa depan yang kerap datang pada tengah malam.

Keadaan seperti ini yang membuat saya tak dapat beristirahat dengan baik. Isi kepala menjadi lebih liar pada tengah malam hingga menuju pagi. Oleh sebab itulah saya mencoba untuk menuangkan rasa gelisah dan suara berisik di dalam kepala kepada kanvas.

Waktu Indonesia Bagian Overthinking lahir sebagai media katarsis saya– sama seperti banyak karya saya yang lain– mengenai segala kekhawatiran hidup dan penyesalan di masa lalu. Setelah karya ini lahir, saya dapat setidaknya mencapai titik kelegaan yang baru.

Saya rasa setiap orang pasti pernah mengalami keadaan overthinking, tentang apapun yang membuat diri gelisah dan tidak dapat tidur pada malam hari.

Overthinking berbeda dengan refleksi diri. Jika seseorang melakukan refleksi diri, dia akan menempatkan dirinya pada beberapa situasi tertentu dan mencoba untuk mencari pemecahan masalah atau solusi. Sedangkan overthinking cenderung berkutat dengan satu masalah yang tak kunjung menemui solusinya.

Sungguh saya bersyukur karena telah menemukan cara untuk membuat diri lebih lega melalui melukis. Sebab tak semua orang dapat memahami dan menemukan media katarsisnya dengan baik.

Credit: Puan Kukila (@kafeinmu)

Design a site like this with WordPress.com
Get started