DO’A UNTUK HARAPAN TERAKHIR

Hai, Hidup! Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Kudengar banyak hal yang semakin berat, benarkah? Berapa banyak sudah harapan yang mati di hadapanmu?
Oh ya, bagaimana kabar temanmu yang bernama keajaiban itu? Tampaknya sudah lama aku tidak melihatnya. Juga dengan ketenangan, tampaknya ia babak belur dihajar gelisah ya?

Oh ya, Hidup. Maukah kau meminjamkanku sedikit waktu untuk beristirahat? Aku tak mau berakhir seperti ini. Bertemu mati di jalan dengan perut yang lapar sepertinya bukan naskah perjumpaan yang menarik. Seseorang bilang aku harus berdo’a untukmu sebagai harapan terakhirku. Aku bingung apa yang harus kuunggah ke langit.

Di manakah titik sebuah tuntas itu? Katanya perjuangan harus sampai di sana. Hai, Hidup! Begini saja, anggap saja puisiku ini do’a untuk harapan terakhir. Jika sudah tak ada jalan, maka mungkin aku sudah tidak tau lagi. Jangan gelap dulu ya!

Title : DO’A UNTUK HARAPAN TERAKHIR
Series : KATARSIS
Mix Media On Canvas
50 x 40 cm
Miftah Rizaq
Yogyakarta, October 2024

Design a site like this with WordPress.com
Get started