Karya-karya terbaru oleh Miftah Rizaq
Dalam mini seri bertajuk TARUNG!, Miftah Rizaq menghadirkan sepuluh karya lukisan yang mengangkat tema pertarungan bukan semata sebagai kekerasan, melainkan sebagai metafora atas semangat hidup, kegigihan, dan keindahan perjuangan. Berbeda dari pendekatan abstrak yang ia eksplorasi dalam seri-seri sebelumnya, pada TARUNG! Rizaq memilih jalur realis ekspresionisme: memadukan bentuk figuratif yang kuat dengan gerak dan emosi yang meletup dari sapuan kuas.
Figur utama dalam seri ini adalah ayam jago dan ikan cupang—dua makhluk yang dalam tradisi kita kerap disimbolkan sebagai petarung alami. Ayam jago, dengan dada membusung dan jengger menyala, berdiri sebagai simbol harga diri, kehormatan, dan keberanian yang tak gentar. Sedangkan ikan cupang, kecil namun garang, mewakili keberanian dalam diam, perlawanan dalam keanggunan. Keduanya bukan hanya hewan, tapi representasi dari jiwa-jiwa yang tidak menyerah—termasuk jiwa sang seniman sendiri.
Setiap lukisan dalam TARUNG! dikerjakan dengan cat akrilik di atas kanvas berukuran 40×40 cm, 50×50 cm, dan 80×60 cm. Ukuran yang relatif kecil hingga sedang ini justru memaksa tiap gestur menjadi lebih padat, lebih personal, dan intens. Warna-warna yang digunakan mencolok namun tidak liar, bergerak antara nyala dan kelam, seolah menangkap momen-momen menjelang atau setelah sebuah konfrontasi batin.
Namun yang paling menonjol dari seri ini adalah keberanian Rizaq untuk memadukan kontrol bentuk dengan ledakan rasa. Dalam kejelasan figur, tetap ada percikan emosi yang tidak bisa ditebak. Dalam pengenalan objek, tetap ada misteri yang menyelinap dari warna, tekstur, dan sapuan. Ini bukan sekadar lukisan ayam atau ikan—ini adalah tarian energi, ini adalah elegi dari mereka yang terus bertarung meski luka, meski sendiri.
TARUNG! adalah deklarasi. Bahwa hidup, betapapun kerasnya, adalah arena yang patut dimasuki dengan dada terbuka dan mata tajam. Bahwa keindahan tak selalu hadir dari kedamaian, kadang justru mekar dari benturan, dari peluh, dari sorak dan diam yang bertubrukan. Dan dalam kanvas-kanvas ini, kita diajak bukan hanya menonton pertarungan, tapi juga merasakannya.










