Kenapa Perahu Kertas?

Fakta menariknya adalah bahwa saya belum pernah membuat perahu kertas hingga beberapa hari lalu diajarkan oleh Mas Arif, Manager saya. Saat kecil, ketika teman-teman lain membuat perahu kertas, saya lebih memilih membuat mainan berbentuk pesawat untuk diterbangkan.

Sampai pada hari di mana saya sadar bahwa perahu kertas punya makna filosofis yang dalam tentang hidup. Ia adalah mainan yang dibuat dari hasil tekukan kertas, berbentuk kapal, lalu dimainkan dengan cara dihanyutkan pada aliran air layaknya perahu yang memang hakikatnya ada di atas air. Tantangannya adalah bagaimana akhirnya perahu kertas itu bisa bertahan selama mungkin sebelum akhirnya basah, rusak, atau bahkan tenggelam.

Momen yang cenderung singkat itulah yang menjadi kenikmatan tersendiri pada permainan ini. Pembuat perahu kertas trntu tau bahwa mereka tidak bisa mengendalikan kapalnya begitu perahunya mengarungi gelombang air, tidak ada kemudi, tidak ada pengatur jarak, kecepatan, maupun arah. Mereka hanya bisa menikmati gerakan-gerakan spontan yang kemudian dihubungkan dengan imajinasi yang membentuk cerita yang menyenangkan di kepala.

Bagi saya, perahu kertas mengajarkan banyak hal tentang bagaimana melihat hidup. Bahwa tidak ada yang abadi dan selamanya, bahwa kita rapuh dan pasti tenggelam, cepat atau lambat. Bahwa akhirnya terkadang arah tidaklah mutlak pentingnya. Mengikuti alur-alir yang ada juga terkadang bisa jadi pilihan terbaik. Juga bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita kendalikan sebagaimana yang kita mau. Juga masih banyak nilai-nilai hidup lainnya yang terus saya dalami dari senuah objek sederhana ini.

Perjalanan saya mungkin bermuara di sini, di perahu kertas. Saya memilih untuk nyaman di sini. Selanjutnya, akan banyak sekali yang tertuang lewat perahu kertas sebagai perwujudannya. Entah itu sebagai simbol, analogi, atau bahkan mitos yang saya yakini. Perjalanan yang sudah cukup lama sekali, saya lalui untuk mencari siapa diri saya, bagaimana cara terbaik untuk menggambarkan diri saya sendiri jika harus diilustrasikan menjadi sesuatu, dan perahu kertas ini menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Akhirnya, saya tida di titik ini. Titik di mana semuanya bermakna.

Sampai jumpa di arus tenang maupun deras berikutnya, jika perahu kertas kita berjumpa, semoga ada cerita baik di sana.

Published by Miftah Rizaq

Karya, Karsa, Rasa, Cipta, dan Cinta

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started