“Hakiki” adalah pertemuan antara Tuhan dan manusia dalam ruang keseharian. Tentang kesadaran yang tidak lagi mencari, tapi menyadari. Kita bertemu di setiap sujud,juga berjumpa di rapalan doaku,bahkan bersua disaat aku mengaminkannya. Kita bertemu selalu,juga berjumpa terus,hanya kadang aku dan keterbatasanku yang lupa,bahwa engkau adalah segalanya.
Author Archives: Miftah Rizaq
TAMU AGUNG
“Tamu Agung” adalah perenungan tentang kehadiran Ilahi sebagai sesuatu yang selalu diundang dan selalu datang. Bukan dalam bentuk wujud, tapi rasa. Perjumpaan antara manusia dengan ketenangan terdalamnya, antara aku dan Engkau yang tak pernah benar-benar terpisah.
DEKAT KARENA RINDU
Ada jarak yang tak untuk di sesali,karena justru dari sanalah rindu tumbuh.Tuhan tak pernah benar-benar jauh,kitalah yang sering lupa sedang dijaga. Dan saat hati mulai ingat lagi,segala yang jauh terasa dekat,karena rindutelah menemukan jalannya pulang.
SELARAS
Ada yang berpikir di kepala,ada yang bergetar di dada.kedua nya sama-sama mencari arah,namun tak lagi ingin menang sendiri. Sebab jalan pulang bukan milik logika,dan ketenangan bukan milik rasa.keduanya hanyalah sayapyang bila dipatahkan salah satunya,manusia jatuh dari keseimbangannya. Maka aku biarkan keduanya berbicara,tanpa saling menuduh,tanpa tergesa,sampai diam menjadi guru,dan selaras menjadi doa.
RUANG UNTUK DIRI SENDIRI
Tolong sisakan sedikit untukkuruang yang bisa kuisi dengan diam,yang kadang jika malam datangbersamaan dengan banyaknya tanda tanya yang tanpa sopan santun mengobrak-abrik isi kepalaitu bisa kulewati atau kulawan dengan jawaban biasa. Tolong sisakan sedikit untukku ruang yang bisa kuisi dengan diriku sendiriyng kadang saat siang menjelangbersama dengan banyaknya tanda seru yang berburu, berlomba-lomba seolahhanya merekaContinue reading “RUANG UNTUK DIRI SENDIRI”
TERNYATA TAK APA
Tidak perlu menang.Beberapa pertarungan memang harus diikhlaskan. Badai yang menggulung,kian membesar bersama gelombang ragu,takut yang mengombak,dan khawatir yang sekokoh karang,juga angin kebimbangan yang menghantam, ternyata tidak semua itu harus dilawan,ternyata tak apa menunggu reda. Ah,tenyata memang tak apa menunggu reda.
TAK PERLU BERDEBAT
Di antara gelap dan terang, ada ruang yang tak menuntut apa-apa.Segalanya berhenti berdebat.Yang tersisa hanyalah keseimbangan halus antara kehilangan dan penerimaan. Reda bukan kemenangan atas duka,melainkan pengakuan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya untuk tenang.
TINGGAL SEBENTAR LAGI
Tidak lama lagi,mungkin ini semua akan selesai.juga pasti akan berlalu. Seperti yang sudah-sudah,seperti sebelumnya.seperti seharusnya. Seperti nya memang inilah saat terbaikuntuk menempa sabar,menguatkan sadar,dan menjaga debar. Bertahanlah, tinggal sebentar lagi!
SIMPUH
Tidak duduk,tidak juga apalagi berlari,Aku sadar bahwa tidak perlu melompat untuk menggapaimu,Wahai Yang Maha Tertinggi. Karena memangtak akan pernah bisa aku menggapaimu.engakaulah yang menggapaiku,Wahai Yang Maha Memelihara. Karena memang akulah yang memerlukanmu,Wahai Yang Maha Besar. Izinkan aku dan simpuhku inimengenalmu sebelum akhirnyakau jatuhkan cinta untukkusupaya aku sanggup terus bersujud.
SERAH
Ada hal-hal yang tak bisa kita paksa,tak bisa kita simpan,dan tak bisa kita perbaiki sendirian.maka,serah bukan tanda kalah,tapi cara paling manusiawi untuk menjaga waras. Kadang, reda datangsaat kita belajar berserah tanpa bertanya lagi kenapa.
