Di tubuh ibu pertiwi, luka tak pernah hilang.Anak-anaknya yang retak karena dibenturkan keadaanhanya menambah perih sang ibu.Karya ini adalah potret duka, tapi juga harapan agar luka yang sama tak terus diwariskan. Air mata bumi berpadu dengan bara langit, menyuarakankeresehan yang tak bisa lagi disembunyikan. inilah wajah ibu Pertiwi hari ini Kembali menangis dalam diam, sementaraContinue reading “PERIH IBU, RETAK ANAK”
Author Archives: Miftah Rizaq
BERJALAN BERSAMA ANGIN
Langkah tak berpijak,namun rasa menuntun arah. Angin jadi penopang,membawa jiwa melayang,Menemukan seimbangdi antara bumi dan langit terbuka.
TANAH AIR
Merah adalah keberanianPutih adalah jiwa yang disucikanDi garis berliku keduanya hidup mencari seimbang Tanah Air kau bukan sekedar warna kau denyut dalam dadaantara luka dan doaantara darah dan cahaya.
LUKA DALAM TANDA TANYA
Warna merah menganga sebagai penanda luka, Hijau hadirsebagai sisa harapan yang enggan padam. Di dalamnyaterselip sebuah pertanyaan: kepada siapa suara harusditujukan ketika pelindung berubah menjadi ancaman? Karya ini lahir dari protes, cinta, sekaligus solidaritas. lukatidak selalu punya jawaban, tapi tanda tanya itulah yangmenjaga kita untuk tetap sadar, tetap bersuara, dan tetap perduli.
YANG AKAN TERUS TUMBUH
Sebab khawatir bukanlah akhir, menyerah tidak pernah menjadi jalan pasrah, dan mati bukanlah tanda henti. Aku bangga menjadi bagian dari biji-biji bunga yang ditabur di sekeliling tembok oleh semangat-semangat seperti wiji. Panjang umur untuk siapapun yang memperjuangkan hak hidupnya!
KALA HUJAN
Di derasnya langit yang runtuh,air menimpa, menyapu resah.namun nyala kecil tetap tegak,menjaga seimbang hidup yang basah.
MENJELMA MERAH
Di atas langit, bulan menjelma merah,sepeti luka yang menyala,atau bunga yang mekar di gelap malam. Seorang diri di hamparan air,jiwa berlayar mencari seimbang,antara terang nya hidup dan bayang-bayangnya. gerhana semesta, gerhana rasa,mengajarkan bahwa gelappun hanya jeda sebelum cahaya pulang.
PANGGILAN UNTUK MUKJIZAT
Dibalik tombol-tombol sunyiada doa yang tak terbacamengetuk garis waktu,menyapa ruang yang tak kasat mata. Mungkin sudah waktunya mukjizat menjawab dengan nada panggildari dalam jiwa.
JANGAN DIAM, LAWAN!
Kata mereka, “Sudahlah, buat yang indah-indah saja!” Memangnya apa yang lebih indah dari perlawanan atas penindasan dan kesewenang-wenangan? Jangan diam, lawan!
NO JUSTICE, NO PEACE
Hitam menelan kata,disudut kecil tertulis justice,rapuh, seakan jauh dari genggaman. Luka merah muda menyala,harap hijau bertahan,tapi di dasar kanvassatu teriakan membeku PEACE Tanpa keadilan,ia hanya bayangan,hanya gema yang tak pernah sampai.
