Tentang sebuah doa dari hati yang lelah, ditulis dalam bahasa kejujuran yang masih berani berharap. Telah ku tempuh jalan sejauh doa,dengan luka yang mulai jinak di dada.tak lagi ingin menangcukup ingin tenang. Dan jika esok belum terang,biarlah malam ini jadi tempatku pulang.
Author Archives: Miftah Rizaq
JALAN PULANG
Kau adalah alasan mengapa aku harus selalu pulang dengan selamat.
LEKAS DISEMOGAKAN
Pulih bukan sekedar sembuh,tapi keberanian menatap hidup dan menyambut mati.dengan dada terbuka dan sepenuh-penuhnya hati. Di tengah getir, kita masih percayabahwa hidup,betapapun remuknya,tetap layak disemogakan. Lekas disemogakan.
MESKI TIDAK LAGI SAMA
Ketika satu senar putus,yang tumbuh justru tanda tanya. Dari tanya itu lahir keberanian menerima yang tidak sempurna,dan di situlah suara baru menemukan dirinya.
MEMBAKAR LAUT II
Kalau untuk berharap saja kamu sudah enggan,keajaiban macam apa yang kau tunggu datang?Do’a macam apa yang kau kira mampu menolong,kalau hatimu sendiri tak lagi mau berjuang?
TAK PERLU TERGESA-GESA
Marah boleh, tapi jangan sebelum membaca. Reaksi boleh, tapi harus lahir dari pemahaman, bukan luapan emosi.
DI ANTARA AKU DAN AKU
Aku ini bukan suci,cuma tak ingin terus kotor. Didalam diriku, ada dua akuyang satu mengejar cahaya,yang satu masih jatuh di lumpur. Kadang mereka bertengkar,kadang saling diam,kadang malah sama-sama letih. Tapi engkau,kau tidak pernah lelah menunggu. Jadi kalau aku masih melawan diriku sendiri,mungkin itu tanda engkau masih mencintaiku. Di antara aku dan aku,aku tidaklah penting,yang terpentingContinue reading “DI ANTARA AKU DAN AKU”
BELAJAR DUA SISI MAAF
Di sisi luka, Tuhan menumbuhkan restu,Di sisi dosa, tumbuh rindu yang malu- malu.Di sisi marah, hati belajar jadi teduh,dan setiap sakit, ternyata cuma jalan pulang yang baru. Di sisi benci, kasih mulai tau arah,di sisi jatuh, rahmat menunggu.di sisi diam, waktu ikut bersujud,menyembah dalam sunyi yang tak butuh nama siapapun di situ. Sebab maaf ituContinue reading “BELAJAR DUA SISI MAAF”
DIALOG
Kalau otak bisa diberi ruang untuk curiga,kenapa hati tidak boleh diberi ruang untuk percaya? Bukankah hidup adalah ruang untuk bertukar rasa dan manusia adalah irama, warna, juga perjuangan kata-kata?
SRAWUNG
Srawung itu bukan cuma ngobrol atau nongkrong.Itu latihan ngalah, latihan ngerti, latihan nerimo perbedaan tanpa ngaku paling bener.Kalau srawungmu cuma biar disukai, itu dagang, bukan hubungan.Kalau cuma sama yang sejalan, itu geng, bukan kemanusiaan.
