Tidak duduk,tidak juga apalagi berlari,Aku sadar bahwa tidak perlu melompat untuk menggapaimu,Wahai Yang Maha Tertinggi. Karena memangtak akan pernah bisa aku menggapaimu.engakaulah yang menggapaiku,Wahai Yang Maha Memelihara. Karena memang akulah yang memerlukanmu,Wahai Yang Maha Besar. Izinkan aku dan simpuhku inimengenalmu sebelum akhirnyakau jatuhkan cinta untukkusupaya aku sanggup terus bersujud.
Author Archives: Miftah Rizaq
SERAH
Ada hal-hal yang tak bisa kita paksa,tak bisa kita simpan,dan tak bisa kita perbaiki sendirian.maka,serah bukan tanda kalah,tapi cara paling manusiawi untuk menjaga waras. Kadang, reda datangsaat kita belajar berserah tanpa bertanya lagi kenapa.
PULIH
Mempersilakan waktu mengantarkan apa saja yang diperlukan untuk pulih.Membiarkan waktu melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk pulih.Merelakan waktu menyingkirkan apa saja yang diharuskan untuk pulih.Dan mencukupkan waktu untuk membangun apa saja yang diinginkan untuk pulih.
MELEPAS SEIMBANG
Dari sekian banyak yang tak bisa ku genggam,ada beberapa hal yang terus ku peluk erat.salah satunya adalah diriku sendiri. Dari sebegitu banyak yang meninggalkanku,ada sebagian yang tetap kusemogakan.salah satunya adalah seimbangku. Dari semua yang hilang,ada sedikit hal yang selamanya kuusahkan.salah satunya adalah melatih maafku. beberapa hal memnag harus dilepas agar seimbang,beberapa lagi harus seimbang agarContinue reading “MELEPAS SEIMBANG”
KITA YANG LUPA
Sebaik-baiknya kekayaan seorang hamba adalah kesanggupan untuk merasa cukup.
BERTAHANLAH, SUARA!
Di ujung sayup aku mendengar teriakanyang mungkin berasal dari kehilangan.lirihnya parau membersamai risau. Mungkin terlalu jauh untuk kujangkautapi getirnya terasa sangat kacau. Bertahanlah, Suara! Aku dan ketidaktahuanku akan menemukanmu!Tunggu reda sebentar lagi.Bertahanlah, suara!
SELEPAS
Bayang mu berjalan tanpa tubuh,sementara kenangan menjelma burungyang mencabuti sunyi dari dadaku. Gelas di meja tumbuh kakidan lari ke gelap, mencari arti sendiri. Aku pun melangkah,meski tanah sering berubah menjadi lautdi bawah ingatanku.
NAKAL
Kali ini aku memejamkan mata lagi,seperti biasanya, hanya sekejap.tapi semua berputar-putarmembawa tenang yang luas,menjinjing diam yang puas. Kepada sang waktu,aku memintanya berjalan sedikit lebih lambat kali ini.agar tidak tergesa-gesa lagi akubertatap muka dengan nyata dunia. Pelan-pelan kutiup sruling doa,berharap suaranya bisamembangkitkan semoga agar segera. Sementara aku di sini dulu ya!
MEDITASI
Begini saja,sekarang kita sama-sama mengingattentang cara untuk melupakan. Kapan pertama kali kau mencium hujan?bukan kah ia datang selepas kemarau panjang? Dan tangis mu memecah heningdan mendermakan hidupnya untuk sepi.lalu aku pergi di antarakaki kursi yang malah mulai menyilang. Begini saja,sekarang kita sama sama mengamatitentang cara untuk melupakan. sanggupkah aku?sanggupkah aku?
KITA SENDIRI YANG CIPTAKAN KIAMAT INI
Langit merah merekam luka,sementara bumi terbaring sebagai tubuhyang kita sakiti perlahan. Pohon-pohon patah adalah doa yang tak sempat selesai,dan puing-puing ituadalah jejak rakus kita yang tak pernah tahu batas. bencana datang bukan sebagai murka,melainkan cerminyang memantulkan siapa sebenarnya kita. Namun di tengah kehancuran,satu tunas tetap bertahan,mengajarkan bahwa harapan hidup tetap adaasal kita berhenti membunuh bumidenganContinue reading “KITA SENDIRI YANG CIPTAKAN KIAMAT INI”
