Di tengah riak yang gaduh,ia duduk diam,menjemput sunyi sebagai jalan pulang. Teratai mekar bukan karena air tenang,melainkan karena lumpur yang diterimatanpa dendam. Nafas menjadi doa,hening menjelma ibadah,dan hati belajar tunduk tanpa merasa kalah. bukan berarti tak ada badai,melainkan iman yang memilih tidak ikut ribut bersama gelombang. Di titik paling sunyi,tuhan hadir sebagai damai yang takContinue reading “KEEP CALM”
Author Archives: Miftah Rizaq
HOPE
Di tanah asingaku duduk tanpa arah,namun engkau tetap dekat. Harap tak berteriak,ia hanya berbisik:bertahanlah. Sebab bahkan saat tersesat, aku masih digenggam oleh-Mu.
SERBA BEGITU
Aku tidak mencari arah,Karena semua jalan sudah kau lewati lebih dulu.Waktu hanya berputar di izin-Mu Di antara ganjil dan sunyi,Aku berhenti melawan makna.Serba begitu,Dan di situlah aku Kau tenangkan.
TAMPAK TIDAK ASING
Sepertinya tampak tidak asing,apakah kita pernah bertemu? Tapi di mana? Ah iya, aku ingat sekarang!kita beberapa kali bersua di titik terendah itu ya? Benar, bukan? Siapa namamu?Namaku Percaya.Oh, kamu ada Menyerah. Baiklah, semoga setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi ya!
PENYERAHAN
Aku perahu yang letih,mengikat bebannya sendiri,namun tetap mengapung di laut tak bernama. Di langit, tanda-tanda kecilmelayang tanpa suara mengajari bahwa terang tak selalu berbentuk Dalam diam kupahami:Penyerahan bukan kalah,melainkan kembali pada Yang Membawa.
DO’A PEMBUKA
Sebelum kata menjadi suara,aku duduk dihadapan-mu sebagai hening .tak membawa apa-apa selain niat yang sering goyah. Seekor buruh hitam berjaga di batas antar tahu dan pasrah,sementara tanda-tanda dunia berlalu seperti kertas di udara. Doa ini bukan permintaan,melainkan penyerahan arah.agar langkah pertamatak tersesat oleh aku,dan setiap lantun kembali kepada-Musebagai pulang yang sebenar.
PUJIAN UNTUK SUKA-DUKA
Suka-Duka adalah dua nada dari lantunan yang sama.Yang datang bukan untuk dipilih ,melainkan diterima Dalam jatuh, Engkau mengajariku rendah.Dalam senang, Engkau mengajariku ingat.maka puji keduanya sebagai jalan pulang,sebab segala rasa adalah caramu menyapaku agar tetap hidup.
SOENJI
Sunyi bukan ketiadaan, melainkan ruang ketika Aku disisihkan agar Yang Maha Hadir dapat terasa.Dalam diam yang jujur, jiwa belajar mendengar tanpa telinga dan memahami tanpa bahasa.
DALAM TENANG
Karya ini saya buat dengan membiarkan tubuh dan rasa bergerak tanpa dorongan untuk menjelaskan apa pun. Lapisan biru saya biarkan bertemu, bertabrakan, lalu menemukan ritmenya sendiri. Emas hadir bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai penanda momen ketika batin terasa terang.Bagi saya, tenang bukan keadaan kosong. Ia adalah ruang tempat semua gelombang diterima tanpa perlu ditolak. DalamContinue reading “DALAM TENANG”
TEDUH
Di tengah gerak warna yang saling bersahutan, saya belajar bahwa ketenangan bukanlah ketiadaan gelombang, melainkan kesediaan untuk berserah. Emas dan biru bertemu seperti langit dan bumi yang saling merengkuh dalam batin.Saya percaya, teduh adalah ruang ketika hati berhenti melawan, lalu perlahan memahami bahwa tidak semua harus dikendalikan. Sebab sering kali, damai hadir saat saya mengizinkanContinue reading “TEDUH”
