aku bilang aku baik-baik saja,bukan karena semuanya tenangtapi karena aku masih bertahan dan hari ini,itu sudah cukup
Author Archives: Miftah Rizaq
RESIDU
tenang ini tipis.seperti sesuatu yang ditahan.aku bilang cukup.padahal belum.
FRIKSI
tidak ada yang kalah.tidak ada yang menang.aku menyebutnya cukup.meski terus beradu.
ENDAP
yang tersisa tidak bergerak.ia hanya menetap di dalam.aku menyebutnya selesai.meski belum hilang.
TINGGAL DI DALAM TANDA TANYA
Dimensi Ketiga
Tempat di mana rasa bisa menghentikan logika.Menutupinya sejenak di antara nyata.Misteri adalah yang sebenarnya kita jaga.Dalam tiap waktu yang ditampung bejana.
Keyakinan
Itu bukan hanya batu yang diam. Dalam benakku, ia berputar kencang, melampaui hukum fisika, menjelma poros semesta yang memutar waktu dan takdir. Perahu kertas itu adalah pikiranku yang mengeja keajaiban, tak mampu menyamai kecepatannya, hanya bisa diam dan menerima.Begitulah aku melihat hidup. Tuhan yang Maha Mengatur, dan aku yang belajar percaya. Karena keyakinan bukan soalContinue reading “Keyakinan”
Kenapa Perahu Kertas?
Fakta menariknya adalah bahwa saya belum pernah membuat perahu kertas hingga beberapa hari lalu diajarkan oleh Mas Arif, Manager saya. Saat kecil, ketika teman-teman lain membuat perahu kertas, saya lebih memilih membuat mainan berbentuk pesawat untuk diterbangkan. Sampai pada hari di mana saya sadar bahwa perahu kertas punya makna filosofis yang dalam tentang hidup. IaContinue reading “Kenapa Perahu Kertas?”
Sampai Juga Di Sini
Sampai juga aku di sini,dengan tubuh penuh coretan,dan warna yang tak selalu cocokdengan dunia. Aku perahu kertasyang tahu betul akan lebur,tapi tetap memilihmengapung di senja terakhir. Batu-batu tak kuhindari,matahari tak kupuja.Aku cuma ingin hadir,meski sebentar,di tengah segala yang nyaris kering. Mukadimah – Miftah Rizaq
Hai, Awal! (Mukadimah)
Hai, Awal!Kita bertemu lagi. Kali ini tampaknya sudah cukup siap untuk berangkat lebih jauh.Lebih sedikit ragu yang dibawa, lebih banyak percaya yang ditata, juga lebih sedikit takut yang membebani di sana. Hai, Awal!Tentu setelah ini tetap tidak mudah. Tapi bukankah hidup sudah cukup mengajarimu bahwa menyerah bukanlah pilihan?Hati-hati di jalan ya! Hai, Awal!Akhirnya kita bertemuContinue reading “Hai, Awal! (Mukadimah)”
