KEYAKINAN

Itu bukan hanya batu yang diam. Dalam benakku, ia berputar kencang, melampaui hukum fisika, menjelma poros semesta yang memutar waktu dan takdir.

Perahu kertas itu adalah pikiranku yang mengeja keajaiban, tak mampu menyamai kecepatannya, hanya bisa diam dan menerima.
Begitulah aku melihat hidup. Tuhan yang Maha Mengatur, dan aku yang belajar percaya.

Karena keyakinan bukan soal mengerti segalanya, tapi berani diam di tengah pusaran, dan tetap percaya bahwa semua akan sampai pada tempatnya.

PETUALANGAN YANG KITA MULAI

Dulu, saat masih kecil, kita sering berimajinasi ketika menghanyutkan perahu kertas di aliran air, entah itu sungai, selokan, atau parit kecil. Di mata kanak-kanak kita, perahu itu bukan sekadar mainan, melainkan kapal petualang yang gagah berani mengarungi ombak besar. Kita membayangkan betapa hebatnya ia menaklukkan arus, seolah tak gentar menghadapi apa pun yang menghadang.

Permainan sederhana itu kini menjadi bagian dari nostalgia yang hangat. Ada rasa senang, deg-degan, bangga, takut, khawatir, dan bahagia yang bercampur dalam satu kenangan yang tak terlupakan.

Mungkin tanpa kita sadari, sejak kecil kita telah diajari tentang hidup. Bahwa walau hanya berbekal keyakinan dan tubuh rapuh seperti perahu kertas, kita bisa tetap memilih untuk melaju. Bukan karena pasti selamat, tetapi karena kita percaya bahwa setiap perjalanan, sekecil apa pun, selalu layak dijalani.

Design a site like this with WordPress.com
Get started