Karya ini merefleksikan ruang-ruang transisi dalam hidup.
Antara tenang dan gelisah, ada dan tiada,
terang dan gelap. Di sanalah keseimbangan
menemukan maknanya, meski bukan dalam kepastian,
melainkan dalam perjumpaan yang terus berlangsung.

Karya ini merefleksikan ruang-ruang transisi dalam hidup.
Antara tenang dan gelisah, ada dan tiada,
terang dan gelap. Di sanalah keseimbangan
menemukan maknanya, meski bukan dalam kepastian,
melainkan dalam perjumpaan yang terus berlangsung.

Di biru kelam, tak lurus membentang diri,
Garis cahaya hadir, asimetri.
Ambang bukan sempurna, namun disini,
Syukur bersemi, dalam senandung sunyi.

Pada kayu yang renta
cat luruh meninggalkan warna
lapisan demi lapisan
adalah kisah yang tak pernah sirna
Ombak telah lewat
angin telah reda
tapi gurat yang tertinggal
adalah saksi yang tak bisa berdusta
Hidup seperti kapal
berlayar lalu berhenti, namun jejak nya tetap berdiri
mengingatkan kita bahwa setiap luka
adalah kesaksian cinta waktu.

Kadang, yang kita butuhkan hanyalah satu tempat untuk membuang ragu. Sisanya biarlah mengalir bersama keberanian.

Apapun itu, cukupkanlah!

Langkah tak lagi menghitung jarak,
arah tak lagi menunjuk utara.
Segalanya berpusat pada satu titik,
tempat laut dan langit
melebur tanpa batas.
Di sanalah haluan,
bukan menuju luar,
melainkan pulang ke dalam.

Menahan, agar tidak runtuh.
Menopang, agar tetap tegak.
Menguatkan, di tengah condong.
Menjaga, di dalam seimbang.

Akan kosong
mungkin hampa
bisa jadi sendiri
bertemu sepi.
Akan penuh
mungkin sesak
bisa saja ramai
bertemu lagi.

Di antara garis yang tak pernah usai,
warna melahirkan suara tanpa kata.
Merah menyala, Biru meresap, Kuning berkilau,
semuanya menjadi tembang rasa dalam jiwa.

Kadang begini, kadang juga begitu
bisa jadi begini, bisa jadi juga begitu
Harus mau untuk bisa,
juga bisa untuk mau.
Bukan karena tak punya jangkar, tapi karena
yang sudah terhubung harus tetap melingkar.
