Konstelasi Do’a

Di antara gelap malam dan diam langit, kita mengenali keberadaan bintang-bintang—cahaya kecil yang memberi arah, harapan, dan kadang hanya sekadar kehadiran. Konstelasi Do’a adalah upaya saya dalam merangkai cahaya-cahaya itu: pengalaman, ledakan harapan, dan monolog–dialog spiritual yang selama ini tumbuh dalam diri.

Konstelasi Do’a adalah peta rasa yang tak hendak menuntun, tapi mengajak merenung. Di sini, saya membuka fragmen-fragmen spiritualitas yang tumbuh dari peristiwa hidup, lantas menjelma menjadi titik-titik terang: karya. Doa tidak digambarkan sebagai mantra sakral yang kaku, tapi sebagai desah hidup, letupan batin, dan kadang sebagai anomali.

27 karya ini disusun bagai relief yang tidak berakhir. Ia hanyalah potongan waktu dalam perjalanan panjang. Tidak menutup, tidak selesai. Karena seperti malam dan bintang-bintangnya, makna doa juga kadang hanya bisa ditangkap dengan perasaan, bukan logika.

Menggunakan warna-warna neon yang berani dan kontras, ditabrakkan dengan gestur spontan dan tulisan-tulisan yang lebih bersifat ekspresif ketimbang komunikatif, karya-karya ini menjelma menjadi visualisasi doa yang tidak selalu ingin dimengerti, tapi ingin dirasakan. Beberapa judul karya diambil dari doa yang saya lantunkan langsung; sebagian lagi dari kejadian nyata yang menggoreskan kesan mendalam.

Judul Konstelasi Do’a sendiri mengisyaratkan bagaimana fragmen-fragmen pengalaman dan perasaan disusun layaknya gugusan bintang: tampak tersebar, namun sebenarnya saling terhubung dalam jaringan makna yang lebih luas. Dalam dunia psikoanalitik, konstelasi semacam ini menyerupai mekanisme asosiatif dalam alam bawah sadar—di mana satu kenangan, harapan, atau trauma, dapat memantik rangkaian reaksi emosional yang lain.

Karya-karya ini dibuat selama bulan Mei 2025, dalam suasana batin yang terus bergerak. Saya mengekspresikan emosi dan kontemplasi melalui warna-warna yang mencolok, simbol-simbol yang lahir secara intuitif, serta coretan teks yang lebih berfungsi sebagai saluran rasa daripada alat komunikasi verbal. Beberapa di antaranya masih memuat tulisan yang dapat dibaca, namun fungsinya lebih sebagai pengantar masuk ke wilayah batin , bukan sebagai narasi utuh.

Seri ini tidak hanya membahas doa sebagai tindakan spiritual yang formal, namun sebagai letupan-letupan batin yang muncul dari luka, harap, absurditas hidup, serta ritme harian yang repetitif. Judul-judul seperti “Pasti Penuh Ketidakpastian”, “Sementara Begini Dulu”, dan “Mengunyah Sepiring Teka-teki” mengandung semacam paradoks eksistensial yang reflektif, nyaris terapeutik. Mereka tidak menawarkan jawaban, tapi menghadirkan rasa yang kita kenal baik: ketidaktahuan yang akrab, keraguan yang sabar.

Elemen visual dalam karya-karya ini memperkuat sisi psikis yang resah sekaligus penuh keinginan untuk pulih. Warna-warna kontras—seperti neon pink, hijau stabilo, dan hitam pekat—ditempatkan berdampingan dengan area kosong dan tekstur kasar. Ini menghadirkan dialog antara energi yang ingin meledak dan ruang yang ingin diam. Tindakan mencoret, menyayat, menumpuk, dan menempel bukan hanya sebagai bahasa formal, melainkan proses psikis dalam membentuk dan merawat harapan.

Karya seperti “Do’a Seorang Ibu Dengan Nada Minor Itu Melaju Lebih Cepat Dari Keputusasaanmu” memuat narasi emosional yang dalam. Ia membawa kita pada dinamika antara kekuatan dan kerapuhan, kasih dan kehilangan. Ada luka yang diobati oleh keyakinan samar, yang kemudian dilipat rapi—seperti dalam judul “Melipat Do’a Dengan Rapi Agar Tidak Dimakan Bosan”—sebagai mekanisme bertahan dari rutinitas yang absurd.

Maka Konstelasi Do’a bukanlah pameran tentang iman dalam definisi religius semata. Ia adalah upaya mencicil keteguhan, menata kelelahan, dan menemukan keindahan dalam perasaan yang tidak selalu bisa dirapikan. Bagi saya, doa bukan sekadar permintaan, tapi pengakuan eksistensial bahwa kita semua, setidaknya sekali dalam hidup, pernah menggantungkan segalanya pada sesuatu yang tak bisa kita lihat—tapi tetap kita percayai.

Published by Miftah Rizaq

Karya, Karsa, Rasa, Cipta, dan Cinta

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started