
Saya melanjutkan proses melukis di kebun kecil sebelah rumah dengan tubuh terbuka pada udara pagi, kaki menyentuh tanah, dan gending Jawa yang mengalun pelan di kejauhan.
Dupa mengepul, langit teduh, dan suara-suara alam menyatu dalam irama yang tidak saya atur, tapi saya ikuti.
Di atas kanvas, saya tidak sedang memaksakan bentuk.
Saya mendengarkan gerak tangan, mengikuti bisikan warna, membiarkan semuanya mengalir dan saling menyapa.
Karya ini adalah tentang harmoni.
Bukan harmoni yang kaku dan dibuat-buat, tapi harmoni yang tumbuh ketika rasa, ruang, dan waktu saling menerima.
Inilah bagian dari PERAYAAN, saat segala sesuatu tidak harus sempurna, tapi saling melengkapi.
