Berdiri di tepi kenyataan bahwa
mimpi berkelindan dalam warna,
ilusi menyalakan bayangan.
di antara jatuh dan terbang,
hidup mencari seimbang.

Berdiri di tepi kenyataan bahwa
mimpi berkelindan dalam warna,
ilusi menyalakan bayangan.
di antara jatuh dan terbang,
hidup mencari seimbang.

Pada tanda yang samar berpendar,
ada bisik angin yang tak pernah bohong,
ada cahaya lembut yang menuntun langkah,
dan jiwa perlahan belajar membaca.
Setiap isyarat bukan sekadar tanda,
melainkan jembatan menuju rasa,
tempat rahayu bersemayam sunyi,
menyulam tenteram dalam dada.
Di balik sasmita yang hening,
tersembunyi berkah tak terucap,
seolah semesta berujar pelan,
“Di sinilah keselematanmu
di sinilah cintamu pulang.”

Aku berdiri di antara waktu,
menyisakan jejak pada sunyi.
Tak perlu ramai untuk nyata,
cukup tegak dalam diri.

Di tubuh ibu pertiwi, luka tak pernah hilang.
Anak-anaknya yang retak karena dibenturkan keadaan
hanya menambah perih sang ibu.
Karya ini adalah potret duka, tapi juga harapan agar luka yang sama tak terus diwariskan.
Air mata bumi berpadu dengan bara langit, menyuarakankeresehan yang tak bisa lagi disembunyikan. inilah wajah ibu Pertiwi hari ini Kembali menangis dalam diam, sementara amarah dan keserakahan membakar di atasnya.

Langkah tak berpijak,
namun rasa menuntun arah.
Angin jadi penopang,
membawa jiwa melayang,
Menemukan seimbang
di antara bumi dan langit terbuka.

Merah adalah keberanian
Putih adalah jiwa yang disucikan
Di garis berliku keduanya
hidup mencari seimbang
Tanah Air
kau bukan sekedar warna
kau denyut dalam dada
antara luka dan doa
antara darah dan cahaya.

Warna merah menganga sebagai penanda luka, Hijau hadir
sebagai sisa harapan yang enggan padam. Di dalamnya
terselip sebuah pertanyaan: kepada siapa suara harus
ditujukan ketika pelindung berubah menjadi ancaman?
Karya ini lahir dari protes, cinta, sekaligus solidaritas. luka
tidak selalu punya jawaban, tapi tanda tanya itulah yang
menjaga kita untuk tetap sadar, tetap bersuara, dan tetap perduli.

Sebab khawatir bukanlah akhir, menyerah tidak pernah menjadi jalan pasrah, dan mati bukanlah tanda henti.
Aku bangga menjadi bagian dari biji-biji bunga yang
ditabur di sekeliling tembok oleh semangat-semangat
seperti wiji.
Panjang umur untuk siapapun yang memperjuangkan hak
hidupnya!

Di derasnya langit yang runtuh,
air menimpa, menyapu resah.
namun nyala kecil tetap tegak,
menjaga seimbang hidup yang basah.

Di atas langit, bulan menjelma merah,
sepeti luka yang menyala,
atau bunga yang mekar di gelap malam.
Seorang diri di hamparan air,
jiwa berlayar mencari seimbang,
antara terang nya hidup dan bayang-bayangnya.
gerhana semesta, gerhana rasa,
mengajarkan bahwa gelap
pun hanya jeda
sebelum cahaya pulang.
