RAHAYU ING SASMITA

Pada tanda yang samar berpendar,
ada bisik angin yang tak pernah bohong,
ada cahaya lembut yang menuntun langkah,
dan jiwa perlahan belajar membaca.

Setiap isyarat bukan sekadar tanda,
melainkan jembatan menuju rasa,
tempat rahayu bersemayam sunyi,
menyulam tenteram dalam dada.

Di balik sasmita yang hening,
tersembunyi berkah tak terucap,
seolah semesta berujar pelan,
“Di sinilah keselematanmu
di sinilah cintamu pulang.”

PERIH IBU, RETAK ANAK

Di tubuh ibu pertiwi, luka tak pernah hilang.
Anak-anaknya yang retak karena dibenturkan keadaan
hanya menambah perih sang ibu.
Karya ini adalah potret duka, tapi juga harapan agar luka yang sama tak terus diwariskan.

Air mata bumi berpadu dengan bara langit, menyuarakankeresehan yang tak bisa lagi disembunyikan. inilah wajah ibu Pertiwi hari ini Kembali menangis dalam diam, sementara amarah dan keserakahan membakar di atasnya.

LUKA DALAM TANDA TANYA

Warna merah menganga sebagai penanda luka, Hijau hadir
sebagai sisa harapan yang enggan padam. Di dalamnya
terselip sebuah pertanyaan: kepada siapa suara harus
ditujukan ketika pelindung berubah menjadi ancaman?

Karya ini lahir dari protes, cinta, sekaligus solidaritas. luka
tidak selalu punya jawaban, tapi tanda tanya itulah yang
menjaga kita untuk tetap sadar, tetap bersuara, dan tetap perduli.

Design a site like this with WordPress.com
Get started