Dibalik tombol-tombol sunyi
ada doa yang tak terbaca
mengetuk garis waktu,
menyapa ruang yang tak kasat mata.
Mungkin sudah waktunya
mukjizat menjawab
dengan nada panggil
dari dalam jiwa.

Dibalik tombol-tombol sunyi
ada doa yang tak terbaca
mengetuk garis waktu,
menyapa ruang yang tak kasat mata.
Mungkin sudah waktunya
mukjizat menjawab
dengan nada panggil
dari dalam jiwa.

Kata mereka, “Sudahlah, buat yang indah-indah saja!”
Memangnya apa yang lebih indah dari perlawanan atas penindasan dan kesewenang-wenangan?
Jangan diam, lawan!

Hitam menelan kata,
disudut kecil tertulis justice,
rapuh, seakan jauh dari genggaman.
Luka merah muda menyala,
harap hijau bertahan,
tapi di dasar kanvas
satu teriakan membeku
PEACE
Tanpa keadilan,
ia hanya bayangan,
hanya gema yang tak pernah sampai.

Di ufuk merah, langit menjerit,
ombak bangkit, menggedor sunyi.
Ada suara yang riung,
terhimpun diujung gelombang,
menyatu jadi gelegar,
menyeret kabar ke palagan.
inilah pesan laut
tak ada yang abadi menahan arus,
tak ada istana kukuh dari pasir.
Segala yang congkak
akan runtuh dihempas riuh,
sebab rakyat adalah samudera,
dan samudera tak pernah bisa dibungkam.

Kain lawas ini adalah pengikat rasa,
mesin pemutar ingatan akan rasa hangat dan dekat penuh cinta.
sejatinya yang harus kita tolak adalah lupa,
pada ibu.
ibu yang membawa kita hingga lahir, dan ibu yang
menerima kita saat semua berakhir.
Kandung atau pertiwi,
Keduanya punya arti dan perjuangan sejati.
Yang harus dijaga dengan juang, wajib dibanggakan dalam
kenang, dan dihidupkan dalam setiap ruang.

Di tengah riuh suara palsu,
ada satu bisikan yang menolak diam.
Ia pecah jadi teriakan,
menembus tembok, merobek langit.
Nurani,
tak lagi lirih,
Ia berdiri lantang,
menjadi palagan terkahir manusia.

Rapuh bukan alasan berhenti.
setiap luka bisa melahirkan daya,
setiap lelah dikubur
oleh keberanian melangkah lagi.
menolak kalah bukan soal menang,
tapi berani hadir
meski hati retak
meski dunia berisik.

Hitam beradu,
Merah memburu,
Putih menyatu,
Palagan menderu!

Keluarga tidak selalu utuh, kadang penuh keluh dan keruh.
Namun justru dalam jarak itu, kita belajar arti pulang.
yang penting bukan kesempurnaan, melainkan kedekatan
yang tak tergantikan.
ini sekaligus pengingat bahwa entah mengapa, inti hidup selalu
berporos pada rumah.

Dalam lengan warna,
sunyi justru bersuara.
kurangi, lalu temukan,
betapa penuh itu yang sederhana.
