Setiap luka menyisakan jejak,
bukan untuk dihapus,
tapi diingat sebagi bukti
bahwa kita pernah bertahan.
Tentang reda setelah badai,
diam yang menyembuhkan.

Setiap luka menyisakan jejak,
bukan untuk dihapus,
tapi diingat sebagi bukti
bahwa kita pernah bertahan.
Tentang reda setelah badai,
diam yang menyembuhkan.

Suara itu.
Sunyi ini.
Ramai di sana.
Sepi di mana?
Dengar! Dengar?

Suara itu.
Sunyi ini.
Riuh dan hening beradu nyali di sana.
Tepat di ujung kepalaku.
Sepi di mana?
Tenang sudah datang?
Diam? Diam!

Tentang sebuah doa dari hati yang lelah, ditulis dalam bahasa kejujuran yang masih berani berharap.
Telah ku tempuh jalan sejauh doa,
dengan luka yang mulai jinak di dada.
tak lagi ingin menang
cukup ingin tenang.
Dan jika esok belum terang,
biarlah malam ini jadi tempatku pulang.

Kau
adalah alasan
mengapa aku harus selalu pulang dengan selamat.

Pulih bukan sekedar sembuh,
tapi keberanian menatap hidup dan menyambut mati.
dengan dada terbuka dan sepenuh-penuhnya hati.
Di tengah getir, kita masih percaya
bahwa hidup,betapapun remuknya,
tetap layak disemogakan.
Lekas disemogakan.

Ketika satu senar putus,
yang tumbuh justru tanda tanya.
Dari tanya itu lahir keberanian menerima yang tidak sempurna,
dan di situlah suara baru menemukan dirinya.

Kalau untuk berharap saja kamu sudah enggan,
keajaiban macam apa yang kau tunggu datang?
Do’a macam apa yang kau kira mampu menolong,
kalau hatimu sendiri tak lagi mau berjuang?

Marah boleh, tapi jangan sebelum membaca. Reaksi boleh, tapi harus lahir dari pemahaman, bukan luapan emosi.

Aku ini bukan suci,
cuma tak ingin terus kotor.
Didalam diriku, ada dua aku
yang satu mengejar cahaya,
yang satu masih jatuh di lumpur.
Kadang mereka bertengkar,
kadang saling diam,
kadang malah sama-sama letih.
Tapi engkau,
kau tidak pernah lelah menunggu.
Jadi kalau aku masih melawan diriku sendiri,
mungkin itu tanda engkau masih mencintaiku.
Di antara aku dan aku,
aku tidaklah penting,
yang terpenting itu Engkau.
